Tentang Reuni

  Ajakan berbuka puasa bersama di grup-grup chat alumni datang bertubi-tubi. Bulan Puasa memang waktu yang tepat untuk menyemai rindu bersama teman-teman lama. Nostalgia bersama-sama atau sekadar ingin tahu ‘cover’ baru gebetan lama adalah alasan-alasan yang bisa membawa kita untuk menghadiri acara.

  Dan seingat gue, tidak pernah ada   acara reuni yang gue hadiri. Selain karena kere tapi belagu, jarak dan waktu menjadi alasan kuat untuk urung hadir.

  Tetapi, alasan utama gue tidak pernah mau ikut ajakan reuni adalah kebiasaan alumnus lain yang tetap terkotak-kotak pada setiap acara buka bersama. Terlalu ‘mubadzir’ mengadakan acara besar dengan peserta yang besar pula, tetapi hanya bercakap-cakap dengan orang yang itu-itu saja. Belum lagi acara reuni yang sering dijadikan ajang pamer. Uhh

  Seperti cerita teman gue Azis yang nekat naik ke atas panggung acara reuni SMA-nya karena muak melihat teman-temannya yang tetap bergrup-grup seperti dahulu. Dengan lantang mengkritisi perilaku teman-teman seperjuangannya. Dan tetap dicuekin.

  Tapi gue malah disorakin. Gue balik aja, terus reuni di kostan bareng teman gue berempat.” Katanya dengan muka penuh belukar berupa jambang dan jenggot yang lebat. Dengan kondisi wajah seperti ini, gue yakin jika dia mudik sambil bawa opak dalam kardus bekas panci, dia bakal disangka ‘calon pengantin’ bom bunuh diri.

  “Lha itu mah sama aja berkelompok, dong.”

  “Iya, ya. Ehehehe.”

  Cerita si Riandi, teman baik gue semasa SMA dulu lebih tragis. Datang ke acara reuni SMP (kita satu SMP juga) dengan keyakinan bahwa rasa senang yang bakal dia dapati. Kenyataannya dia hadir hanya untuk ikut makan, foto-foto, dan bayar. Dia diabaikan sepanjang acara berlangsung.

  Agak wajar, sih, Mengingat selama SMP dulu dia masuk di kelas ‘unggulan’ yang seolah hilang dari pergaulan kelas biasa yang lain. Padahal waktu SMA, dia adalah salah satu murid yang cukup supel dan terkenal satu sekolah. Meski terkenalnya karena kelakuan aneh dan kekanakannya.

  Dan dengan bekal cerita-cerita menyedihkan di atas, gue jadi sedikit bersyukur tidak pernah ikut acara buka bersama para alumni. Gue yang selama berseragam Putih-Biru dan Putih-Abu paling banyak berkelompok dengan lima orang saja (tapi terkenal satu angkatan juga, sih. ehe), punya potensi lebih besar untuk menderita sepanjang acara.

  Meskipun dalam hati kecil ada keinginan juga untuk ikut reuni jika saja waktu acaranya ‘pas’. Ditambah sebelumnya mantan gebetan (yang menurut salah satu teman jadi semakin cantik) tiba-tiba saja nge-chat dan ngajak untuk ikut serta.

  Tapi kawan, belumlah sampai waktu kita untuk berjumpa kembali. Diri ini masihlah merupa butir pasir di gurun yang luas. Buih di samudera lepas. Juga belum punya pajero atau rubicon untuk dipamerkan pada kalian semua yang rendah hatinya. Mengertilah.

  Dan lagi-lagi, bulan puasa kali ini gue hanya bisa menghadiri ‘Mini Reuni’. Kali ini bersama dua teman baik di SMP dulu. Yang akhirnya bisa bertemu kembali setelah bertahun-tahun lost contact.

  Mengenang kisah si ‘gazkin’, manusia jadi-jadian yang digambar si lutfi di dinding kelas, bercerita tentang kenakalan dan kebodohan yang dulu diperbuat meski duduk di depan meja guru atau mengingat nama-nama samaran teman satu angkatan dulu yang dibuat agar ledekan kami tersamarkan. Adalah hal-hal yang tak kalah menyenangkan dengan ikut serta dalam acara yang dihadiri beratus-ratus orang.

Biar kere yang penting belagu” πŸ˜‡




Iklan

28 thoughts on “Tentang Reuni

Add yours

  1. Jadi inti dari twit kemarin adalah tulisan ini, hmm mengangguk mengerti πŸ€”
    Aku bahkan nggak pernah lagi ikut reuni sejak lulus SMA, karena bejibun yang datang dan acaranya cenderung unfaedah kak. Cuma kalau ketemu sama teman-teman dekat SD, SMP, SMA, masih seringlah ya karena masih satu kota dan satu univ :3
    Aku tetap pada pendirianku, biar kere yang penting lucu, bukan belagu πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Suka

    1. Semua tweetku tidak mencerminkan realita yang ada πŸ˜₯
      iya, kalo ngadain reuni cuma untuk ketemu sama orang-orang tertentu mah mending langsung hubungi yg bersangkutan aja, gausah pake embel-embel reuni angkatan πŸ˜₯

      Disukai oleh 1 orang

  2. Iyeay! Gue suka gaya lo! Utamakanlah belagu (~_~パ)

    Ternyata tentang ‘terkotak-kotak’ itu terjadi pada orang lain juga. Kirain cuma saya. But well, saat saya ikut bukber kemarin (bukber pertama saya stl bertahun2), meski kami agak terkotak (mungkin karena malu dan merasa canggung) tapi ujung-ujungnya bersatu juga. Memang kelas saya waktu SMA adl kelas paling kompak *belagu

    Perihal reuni dg teman dekat, tentu lebih mengasyikkan lagi. Untuk sesaat saja, kalia pasti menegakkan kembali panji-panji keonaran ha ha οΌˆγ€œ^βˆ‡^)γ€œ

    Suka

    1. Biar kere yang penting belagu πŸ˜‡

      Saya juga pernah punya kelas yang kompak (padahal cuma setengah dari jumlah keseluruhan murid kelas) tapi ujungnya jadi terpecah juga gara-gara ada yang pacaran terus musuhan setelah putus 😒

      Disukai oleh 1 orang

  3. Betul banget. Pas reuni kelas, tetep aja pada ngotak-ngotak. Kalau nggak ada temen satu geng-nya, malah milih menyendiri dan ujung-ujungnya ngerasa di kacangin. Jadi males kalau mau ikut lagi.
    Sekarang malah saya bikin reuni sendiri, tapi buat temen-temen yang deket aja. Lebih berfaedah dan lebih asik.

    Suka

  4. Iya bener mas, minusnya reuni dalam kapasitas besar ya seperti ini. Judulnya reuni tapi ujung-ujungnya ngegap juga. Yaaa kembali lagi sih, kita mestinya lebih nyaman ngobrol dengan yang nyambung kan? He he lebih baik bikin mini reuni aja biar quality time nya bener-bener terpakai nggak cuma buat makan, foto, bayar habis itu upload di sosmed πŸ˜‚πŸ˜‚

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: