Home Is Where the Heart Is

  Terakhir menikmati teduhnya kota ini waktu tahun baru kemarin. Melahap gempita pergantian tahun di salah satu bukit di sudut kota kembang yang sejuk. Membakar satu demi satu kayu bakar di depan tenda dan mulai bercerita dengan teman-teman lama.

  Meski sebelumnya diterpa kantuk yang tak tertahankan setelah perjalanan jauh dengan roda dua. Semua itu terbayar dan hilang begitu saja ketika kedua mata ini berjumpa wajah-wajah mereka. Mereka yang menyertai, membantu menuliskan cerita pada masa-masa itu. Masa-masa yang selamanya akan nyaman untuk dikenang.

  Bandung dan segala cerita yang pernah terekam di dalamnya, selalu ampuh menjadi obat segala penat yang rebah di kedua bahu. Menikmati kerlip lampu malam di atas ketinggian, tertawa puas bersama orang-orang terdekat di sana, ditemani kopi panas, atau sekedar melamun dan meresapi tiap lagu yang diputar di sepanjang perjalanan, adalah hal-hal yang mampu sedikit demi sedikit meleburkan tiap beban yang menyesakkan. 

  Mengira bahwa semuanya akan terus terasa seperti ini ternyata adalah sebuah kesalahan. Ternyata, tempo beberapa tahun saja adalaah waktu yang cukup untuk mengubah semuanya menjadi sedikit berbeda.

  Tak ada lagi wajah-wajah ceria ketika kami dipertemukan kembali. Semua terasa sedikit dipaksakan. Ada sedikit rasa kecewa ketika kembali ke sana pada selepas hari raya kemarin. 

  Seperti perasaan ketika kita kembali ke rumah setelah lama berkelana di luar sana, dan mendapati isi rumah kita sedikit berbeda. Bandung tetaplah Bandung yang pernah dikenal sebelumnya, hanya orang-orang di dalamnya yang mulai sedikit berubah. Atau yang sedang menulis ini yang berubah? Entahlah.

  Terasing di rumah sendiri adalah perasaan yang terlalu aneh. 

  Berangkat dengan perasaan excited seperti biasa, memilih untuk menolak ajakan keluarga besar yang akan mudik ke kota lain, menunda rencana membetulkan Handphone yang hancur saat malam takbiran, namun mendapati diri hanya datang untuk menikmati ‘kekosongan’ di sana.

  Dan, ya, mungkin ekspetasi berlebih ini yang telah membuat kecewa. Tak ada yang benar-benar abadi, bahkan untuk hal-hal yang sentimentil seperti percintaan atau pertemananpun, lambat laun akan pudar. 

  Kini kita hanya perlu mencoba untuk terbiasa dengan perubahan yang ada, lalu mulai menemptkan diri sebagai wisatawan biasa tiap kali hasrat untuk kembali mulai membuncah. Dan untukmu, Bandung; tak akan pernah habis alasan untuk mengunjungimu pada masa depan. Karena hanya pada selasarmu, kenangan yang indah pernah tercipta.



Iklan

26 thoughts on “Home Is Where the Heart Is

Add yours

  1. Mungkin kak tampan yang berubah menjadi power rangers atau super dede
    Entahlah, aku baru sekali ke Bandung dan langsung jatuh cinta sama cirengnya, sama mamang kasep yang ngejualin cirengnya. Aih, jadi rindu Bandung 😒

    Suka

  2. rasanya tiap kota akan mengalami perubahan bangz..
    aku juga masih ingat bahwa, rumahku paling pinggir deket sawah tahun 2000 an, tapi sekarang, justru rumahku berada di tengah desa πŸ˜…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: