Catatan Putih Abu-Abu: Hari Pertama Masuk SMA

  Sebenarnya, membuat postingan seperti ini, artinya, melenceng dari tujuan awal membuat blog ini. Candalabaswara awalnya dibuat sebagai media untuk curhat terselubung (berpuisi), bukan tempat untuk curhat secara terbuka, serta membuat konten-konten dikala gabut yang isinya aneh-aneh (artikel humor garing).

  Itulah alasan kenapa setiap kali memposting curhatan, beberapa hari setelahnya (biasanya 2 hari) postingan akan di-set ke private sehingga tidak muncul lagi di daftar postingan.

  Selain itu, kebingungan dalam memilih antara ‘aku’, ‘saya’, atau ‘gue’,  juga menjadi alasan yang kuat. Tapi karena akhir-akhir ini ide sering mentok dan postingan curhatan jadi semakin banyak (awalnya dibuat sebagai ‘pancingan’ untuk berpuisi atau membuat artikel), ditambah membaca postingan Mbak Kunu yang bererita awal mula ia mondok, maka, lahirlah ide untuk membuat rentetan curhatan atau kumpulan cerita masa-masa SMA ini. Terimakasih mastin ❀ 

Halah bodoamat!

(Padahal gara-gara takut diledek temen di real life)

  Hari itu, hari yang entah tanggal tepatnya berapa, dengan celana pendek biru serta Sweater yang menyembunyikan seragam berlogo OSIS warna kuning, dandanan cupu gue berbaur dengan ratusan anak seusia dan orangtua mereka di sebuah ruang laboratorium SMA (lumayan) favorit di belahan barat Kota Kembang.

  Mata gue tertuju pada sosok di depan mata. Seorang anak perempuan dengan kacamata dan poni lucunya, bersender di bahu wanita paruh baya pagi itu, memandangnya, seolah memberikan gue semangat yang tak pernah tumbuh sebelumnya ketika dipaksa masuk ke sekolah ini, karena teman-teman terdekat yang lain lebih memilih masuk ke sekolah kejuruan.

  Hari itu adalah hari terakhir rangkaian pendaftaran yang membosankan. Dan setelah dinyatakan lulus seleksi, kami diberitahu jika masa orientasi  akan dimulai pada hari senin depan. Ya, masa orientasi yang hina itu sudah ada di depan mata. Gambaran-gambaran penderitaan seketika berputar di pikiran. Gue terbayang akan mendapati diri sedang dikencingi ramai-ramai oleh kakal kelas di toilet pria yang harumnya dapat memmbunuh lima ekor gajah dewasa, dengan muka mengenaskan sambil teriak “Kakak.. Jangan kakak! Aku janji pulang sekolah bakalan traktir kalian air mineral satu-satu, kak. Jangan, kak, jangan!! Aaak tititmu belum disunat, kak!

  Ternyata, mitos MOS yang begitu menyeramkan itu tak pernah menjadi kenyataan. Gue dengan elegan melewati hari-hari yang membosankan itu. Satu-satunya hal buruk yang terjadi adalah gue salah pake kostum kelas.

  Hari pertama MOS, gue datang dengan tampan beberepa menit sebelum kegiatan dimulai (padahal rumah hanya berjarak beberapa ratus meter saja dari sekolah), lengkap dengan topi Pak Tarno (atau Dipsy) dan tameng kartonnya. Jika gue memakainya sekarang, mungkin gue bakalan dikira badut spesialis ulang tahun.

Eh, anak baru, berani banget baru masuk udah terlambat. Kelas apa kamu? Cepetan push up” Kata mbak-mbak kakak kelas dengan nada yang diseram-seramkan tapi tetap tidak bisa mengubah kesan cupu di wajahnya. Di sampingnya ada teman Osis-nya yang lebih kalem. Lebih cantik juga. Ehehe
Kelas ungu, kak.” Jawab gue sambil berusaha menyembunyikan rasa ingin tertawa melihat si kakak kelas.
Yah kelas gue, lagi, bikin malu aja.” Kata kakak Osis yang kalem. Mereka kemudian sedikit berdiskusi, lalu membiarkan gue masuk ke kelas.

  Baru beberapa langkah si kakak kelas kalem itu manggil gue

Eh, anak baru, besok beli kacamata, gih“, “Emang kenapa, kak?
” Gue menjawabnya dengan heran.
Yang lo pake itu warna biru, begok! Hahahaha.” Kata si kakak kelas yang tadi berusaha terlihat seram. Ternyata, dia terlihat lebih menyeramkan saat tertawa dibanding marah-marah. Dan gue baru sadar jika kostum yang dipakai ini warnanya biru gelap. Besoknya, gue merebus kostum karton gue dengan pewarna pakaian, berharap warnanya bisa berubah jadi keunguan. Lalu karton gue berubah jadi bubur kertas.

  Oh, ya, gue sama anak perempuan yang gue perhatikan selama masa pendaftaran yang lalu, dipertemukan lagi di kelas MOPDB yang sama; Kelas Ungu. Mungkin gue emang berjodoh sama emaknya atau bapaknya, mungkin?. Tapi saking cupunya, sampai masa orientasi selesai, gue tahu namanya aja enggak.

  Akhirnya, setelah melalui ujian tertulis (lagi), dimulailah pembagian kelas pada hari terakhir masa orientasi. Kali ini seragam Putih-abu telah terpasang (nyaris) rapi di badan. Acara diawali sambutan dari Bapak Kepala Sekolah dengan kumis tebalnya, lalu dilanjutkan dengan pembacaan nama-nama murid yang mengisi kelas 10-1 s/d 10-9. 10-1 adalah kelas unggulan untuk tahun ajaran baru ini, setelah tahun sebelumnya predikat kelas unggulan diberikan ke kelas 10-9. Nama gue ikut disebut saat nama-nama murid pengisi kelas 10-1 disebutkan satu persatu. Gue yang sedang asyik becanda, sempat tidak menyadarinya sampai beberapa teman gue ikut memberi tahu. Dan sampai sekarang, gue masih bingung kenapa gue bisa masuk kelas unggulan saat itu. Hidup ini memang ajaib.

  Begitu masuk kelas, gue celingak-celinguk berusaha mencari wajah-wajah yang gue kenal, tapi yang gue lihat hanya wajah-wajah asing, kecuali si Gina, teman satu SMP dulu dan kita tidak pernah akrab sebelumnya. Maka jadilah gue yang terasing bersama kumpulan yang gue yakini ‘kutu buku‘ di sini dengan orang-orang yang mereka pernah kenal sebelumnya. Sementara gue duduk sendiri di pojokan sambil ngupil.

  Hingga datanglah murid dengan tubuh tinggi kurus berkulit hitam yang datang terlambat sambil berlari-lari kecil dan meminta ijin gue untuk duduk di meja yang sama. Caranya berlari begitu mirip dengan Shaggy, salah satu tokoh dalam serial kartun Scooby-Doo, bedanya teman gue ini item abis.  Namanya Ari, dia datang dari Cianjur yang ber kilo-kilo meter jauhnya. Yah, walaupun yang gue harapkan untuk datang terlambat dan duduk di samping gue adalah murid perempuan cantik seperti di FTV, seenggaknya, gue punya makhluk yang bisa diajak bicara.

  Setelah semua kelas dibagikan, masuklah seorang Ibu-ibu. Bukan, dia bukan tukang bacang yang biasa membawa dagangannya ke sekolah (walaupun mirip. Ehehe). Yang masuk adalah Ibu (lupa lagi), salah satu guru BP di sekolah yang menggantikan Ibu Kusdijana, calon wali kelas kami yang berhalangan hadir.

  Hari itu hanya diisi dengan proses pengenalan yang dilakulan para siswa kelas. Mereka diminta menyebutkan nama dan asal sekolah mereka. Seolah perkataan template, semua murid memulai dengan kata “Perkenalkan teman-teman saya bla bla, saya berasal dari SMP bla bla. Senang bisa berekanalan dengan teman-teman semua.” Yang Membutuhkan 176 kali kedipan mata untuk menunggu satu orang saja selesai memperkenalkan diri mereka.

  Gue yang berada di urutan meja terakhir, juga menjadi orang terakhir yang mengenalkan diri. Dan gue hanya berdiri dan ngomong “Hendra, SMP 2.” Lalu kelas menjadi hening cukup lama.

  Ya, itulah cerita hari pertama gue masuk SMA. The place where all the stories begins.


Iklan

51 thoughts on “Catatan Putih Abu-Abu: Hari Pertama Masuk SMA

Add yours

  1. Selamat Pagi Mas Hendra,

    Saya Soraya dari http://serumah.com.
    Saat ini trend berbagi ruangan/roomsharing sangat marak di kota besar. Kami berinisiatif untuk membuat situs pencari teman sekamar/roommate agar orang-orang yang ingin menyewa tempat tinggal (apartemen, rumah atau kost) dapat berbagi tempat tinggal dan mengurangi biaya pengeluaran untuk tempat tinggal. Berawal dari ide tersebut, website serumah.com diluncurkan pada awal tahun 2016.

    Saat ini saya meminta bantuan anda untuk menuliskan artikel review mengenai serumah.com di situs blog anda. Saya dan Tim Serumah sangat menghargai jika Anda bersedia untuk memberikan review terhadap website kami dan menerbitkannya di blog anda.

    Mohon hubungi saya jika ada pertanyaan lebih lanjut. Saya ucapkan terima kasih atas waktu dan kesempatannya.

    Soraya F.
    Cataga Ltd.
    soraya.serumah@gmail.com
    http://serumah.com/

    Suka

    1. Orang pertama yang beli sekaligus satu-satunya 😒

      Enggak, bang. Ini aja baru 3 tulisan.
      Udah gitu ku gak bisa bikin quotes keren buat di-posting calon pembaca di medsos. Rangorang kita kan haus akan quote-quote potensial dapat like banyak 😒

      Suka

      1. Aku masih ngorek-ngorek kenangan, bang. Ini juga murni ingatan saya doang, tanpa bantuan teman seperjuangan 😒 soalnya khan ini blog dirahasiakan dari teman, bang.

        Ini kata-katanya pabaliut pisan euy!

        Suka

  2. Itu-itu, di paling atas halaman blog, kenapa ada sperma menari-nari. Untuk anak baru masuk SMA, punya karya tulisan semacam ini. Standing applouse buat kamu. Salam kenal dulu. Hafidh dari lereng gunung semeru. yang belum-belum sudah diperintah-perintah untuk membaca blog ini dengan panduan super berat di kolom panduan. -_- Overall, semangat yaa nulisnya. Jangan cepat puas.

    Suka

  3. Jangan dihapus mas.. Buat aja serialnyaaa..

    Menurut Wa ga masalah sih isi blog melenceng dari niat awal buat blog.. Sayang lhoo kalo kenangan2 dibiarin gitu aja, nanti hilang tak berbekas.. *tsaaaah

    Suka

      1. Bikin serial doong. Bikin. Aku penasaran sama gadisnya itu tadi, apakah ada hubungannya sama curhtan yg di post duluuu itu. Hehhe. Nebak2..

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: