Catatan Putih Abu-Abu: Rumah Gosong Kosong

  Beberapa bulan lalu, teman lama gue si Indra, menghubungi gue lagi melalui aplikasi messenger LINE, setelah sekian lama kami tidak saling berkomunikasi. Dia membawa berita bahagia perihal rencana pertunangan dengan pasangannya, dan menurut penuturannya, gue adalah orang pertama yang ia kabari, bahkan kedua orangtuanya pun belum tahu menahu rencananya ini.

  Hidupnya memang sudah nyaris sempurna, punya rumah kosong di Bandung, mengabdi kepada negara sebagai anggota kepolisian, serta memiliki pasangan yang mau menerima kurang dan lebihnya sebagai manusia. Maka tidaklah mengagetkan ketika pertama kali mendengar rencananya ini. Kecuali dari segi usia yang terhitung masih muda, menurut gue, dia sudah cukup matang untuk membina rumah tangga.

  Brung, menurut lo, penting gak, sih, tunangan? Gue sebenarnya belum setuju rencana ini. Tapi cewek gue maksa, katanya, dia butuh kepastian.” Mendapat pertanyaan ini, gue sebagai jomblo senior yang sama sekali tidak mengerti masalah beginian, tentunya dibuat bingung. Setelah berpikir cukup lama, gue akhirnya menjawab dengan sedikit ngasal, “Song, gue sebenarnya gak ngerti masalah ini, tapi gak ada salahnya juga lo sama dia tunangan. Toh lu juga yakin, kan, sama dia? Tunangan itu ibarat down payment waktu mau beli barang, sebagai pengikat dan pengingatt bahwa  lo benar-benar serius sama hubungan ini dan akan membawanya ke jenjang pernikahan kelak.”, “Iya, sih. Tapi entar, deh, gue komunikasiin lagi sama cewek gue.

  Dan setelah melewati bagian kikuk soal hubungan dia dengan pasangannya, kami mulai sama-sama bernostalgia tentang masa-masa keruh waktu kelas satu SMA dulu. Kami memang hanya menjadi teman sekolah selama satu tahun saja, walau begitu, waktu yang singkat itu sudah cukup untuk mengakrabkan kami sebagai teman yang bisa saling mengerti. Waktu kenaikan kelas dua, si Indra berpamitan menuju seberang pulau, tepatnya ke Pulau Kalimantan, tempat di mana kedua orangtuanya berada. Setelahnya, dia beberapa kali kembali ke Bandung untuk berlibur.

  Bapaknya si Indra adalah seorang prajurit TNI yang sering dipindah tugaskan, dan sudah semenjak si Indra masuk SMA, Bapaknya bertugas di Kalimantan. Membawa serta Ibu dan adiknya si Indra. Sementara si Indra menunda keberangkatannya selama satu tahun karena sudah terlanjur masuk ke SMA di mana gue juga menjadi salah satu bagian dari pelajar di dalamnya.

  Dan berbicara tentang kenangan gue semasa putih abu-abu, maka, nama si Indra gosong, rumah kosongnya, serta penderitaan yang menyertainya, adalah bagian yang sulit untuk tidak serta ditulis ke dalamnya.

  Sewaktu kelas satu, selain SMS dari M-Tronik dan gebetan, SMS dari si gosong yang datang menjemput gue untuk nginep adalah pesan-pesan yang gue tunggu-tunggu adanya. Biasanya bunyi pesannya akan seperti ini, “Brung, gue udah ada di alfa, buruan sini!“, “Brung, gue punya duit banyak. Kita pesta!” , atau “Brung, charger-an lo gue umpetin tadi. JadiLo kepaksa kudu nginep lagi hehehe.

  Jika anda membayangkan bahwa dunia inap-menginap gue di rumahnya itu seru abis seperti layaknya anak laki-laki yang sedang menginap, maka, jawabannya tidak sama sekali. Gue selalu dibuat menderita selama gue menginap di rumahnya, yang hampir selalu gue lakukan setiap malam, kecuali ketika dia lagi nginep di rumah neneknya atau gue yang nginep di tempat lain yang lebih menjamin keberlangsungan hidup gue ke depannya. Pelajaran yang gue dapat dari menginap di rumahnya adalah; Membiarkan anak SMA sendirian mengurus rumah adalah bencana.

  Begitu masuk ke dalam rumahnya, bau kecoak yang menyengat, akan membuat gue semakin mengingat nama Tuhan, berharap kecoak terbang tidak menampakkan diri ketika malam menjelang nantinya. Ketakutan gue terhadap kecoak ini selalu dijadikan senjata untuk mengerjai gue oleh si Gosong atau teman yang lain yang kebetulan ikut menginap.

  Seperti yang dilakukan si Iren, salah satu teman kami yang memiliki wujud wanita, namun berjiwa pria (sekarang dia telah bertransformasi menjadi wanita seutuhnya), yang kebetulan sedang mampir main. Dia dengan anggun memasukkan kecoak ke dalam baju dan mie goreng gue yang dibeli dengan mengorbankan bekal sekolah yang dibawa dari rumah. Kelakuannya ini sukses membuat gue melompati pagar dan berlari beberapa puluh meter.

  Keberadaan kecoak yang jumlahnya luar biasa melimpah, justru berbanding terbalik dengan persediaan air di rumah ini. Di rumahnya hanya ada toren besar yang isinya air hujan. Dan gue terpaksa menggunakannya untuk memasak mie atau membuat kopi, serta terkadang digunakan juga untuk mandi, walau seringnya hanya digunakan untuk cuci muka. Ehehe. Masalah ini memaksa gue untuk datang ke sekolah dalam keadaan dekil karena engga mandi. Gue jadi berpikir bahwa sebab musabab gue yang dekil semasa SMA (walaupun masih laku keras di mata wanita huahaha) adalah karena pernah mengenal si Indra sebelumnya. And you know what? Setiap pagi, dia akan ninggalin gue sendiri di rumahnya sementara dia pergi ke rumah Kakeknya untuk mandi pake air bersih.

  Selain itu, penderitaan kami setiap kali menginap adalah persediaan amunisi (Makanan, minuman, dan rokok) yang tidak memadai. Sebagai tamu yang selayaknya diperlakukan bak raja oleh sang empunya rumah, gue justru harus selalu ikut patungan  untuk membeli perbekalan untuk satu malam. Keadaan akan lebih terasa ringan jika si Nyu, orang kedua yang paling sering merasakan penderitaan di rumah si Indra,  ikut menginap. Walaupun kadang-kadang si Nyu sama sekali tidak membawa uang ketika menginap. Jika situasinya seperti ini, rencana jahat gue untuk menjualnya kepada Om-om pemilik salon, kian besar.

  Meski begitu, tak pernah ada rasa menyesal yang singgah setelah gue menginap di sana. Seolah ada aura kuat yang memaksa gue untuk selalu meng-iyakan setiap ajakan untuk datang. Di tempat ini pula, masa-masa kelam akibat permasalahan di sekolah maupun di luar sekolah, gue  nikmati perlahan sakitnya. Tepat di atas genteng rumahnya, sesi curhat sering kami lakukan, ditemani secangkir kopi untuk berdua dan setengah bungkus rokok yang juga dibagi dua (bertiga jika si Nyu ikut), rasa-rasanya semua beban yang hinggap akan lenyap seiring kepulan asap yang sama-sama kami hembuskan ke udara menuju langit lepas yang kami tatap bersama-sama. 

  “Dia ngehubungin gue lagi.” Kata gue seraya menikmati dingin dan sebatang rokok di genteng rumahnya.

  “Dari awal gue udah yakin itu. Cepat atau lambat dia bakalan balik lagi. She belongs to you.” Jawabnya dibarengi senyum kecut merekah di wajah hitamnya sambil berdiri bersiap untuk turun.

  “Stephanie Perkins bilang ‘Home isn’t a place. It is a person. And she’s finally home.” Ucapnya lagi. Kemudian kami sama-sama tertawa lepas.




Iklan

47 thoughts on “Catatan Putih Abu-Abu: Rumah Gosong Kosong

Add yours

  1. “walaupun masih laku keras di mata wanita huahaha” emang dasaran udah tamvan yah….πŸ˜‚πŸ˜‚
    Dulu aku juga sering menginap di basecamp. bedanya gak serusuh itu.. biarpun yang ngnap bisa 5-10 orang..
    karena kita berkomitment tamu adalah buruh, jadi cuci2 sendiri kalau habis makan, kamar juga dibersihin sendiri kalau mau berangkat sekolah, dan air alhamdulillah banyak, tapi kita jarang mandi, soalnya tempatnya di pegunungan yang airnya bak air es ketika pagi hari.
    jadi cukup ambil air satu genggam, di basahi ke muka dan diusapkan pake handuk dengan rata.
    semprotkan minyak wangi dan tadaaaa, kita udah wangi dan siap melewati hari ini dengan percaya diri πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Suka

      1. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
        Berasa pengen tak lempar kecoak seribu ekor. Biar keliatan machonya. Dan melihat Mas Hen mau lari ke arah mana. πŸ˜…

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: