Have a Nightmare

Catatan beberapa tahun yang lalu:

  Perasaannya tetap sama. Perasaan yang dihadirkan tetap sama; sesak. Seperti ada yang menekan-nekan tepat di dada. Dan gue tetap mengulang-ulang semua, seperti kecanduan rokok atau alkohol, gue menyukai luka yang diberikan kenangan tentang dia. 

  Gue melakukannya dengan keadaan sadar sepenuhnya, tanpa ada pengaruh hal apapun yang memabukan. Gue menikmati; sangat menikmati. Gue ingin dia tetap hidup. Dia yang gue kenali; bukan yang setelahnya atau yang sekarang. Dia yang menawarkan hal-hal baru dalam hidup gue yang hambar. Dia yang memberikan warna lain di hidup gue yang abu-abu, dan gue gak pernah berani mengakuinya dengan terbuka. Sampai detik ini. Sampai dia berkembang pesat. 

  Dia yang dengan sabar meladeni tulisan-tulisan kampung gue. Dia yang dengan lantang meneriakan kekurangan-kekurangan gue, yang mungkin, gak akan pernah gue ubah tanpa andil darinya. Tentang nama facebook, tentang Sms yang gue share ke sembarang kontak, tentang profil gue, tentang lagu kesukaan gue. Tentang apa saja; yang detailnya, sedikit demi sedikit mulai mengelupas dari ingatan. Dia; yang selalu tersipu oleh sajak sajak aneh yang gue buat untuknya. Dia yang manggil gue ‘Kebo istimewa’,  tiap kali gue bangun siang, dan mengacuhkan pesan darinya. Dia yang telah menerapkan standar tinggi,  untuk ‘perempuan idaman‘ gue, yang telah sukses membuat gue selalu membanding-bandingkan dia dengan perempuan lain yang gue dekati. Dia; yang begitu gue puja-puja. 

  Dia yang pergi begitu saja, segera setelah gue ikut menghabiskan pil-pil beracun yang ia terima. Pil-pil rindu, atau apapun yang hadir setelah satu hubungan berakhir di pertengahan waktu. Yang tanpa ia sadari, gue juga menerimanya. Jauh lebih pahit, lebih beracun. Lebih memakan waktu. 

  Dia pergi begitu saja. Tanpa mau menengok gue, yang langkahnya perlahan mulai gontai, yang terlihat tegar, tapi jauh didalam, remuk. Benar-benar remuk. Dan dia tetap acuh, seolah sebab musababnya bukan berasal darinya. Seolah gue telah sepertinya; lepas dari bayang-bayang kelabu, yang pekat menutup tiap jengkal jalan yang gue pijak bersama kenangan yang menyesakkan. 

  Dan harus tetap melanjutkan hidup setelahnya, beserta berjejel tanda tanya. Apa, Kenapa, dan Bagaimana, yang gak pernah diketahui arahnya kemana, dan jawabannya apa. Dia yang namanya hilang dari lembar-lembar baru yang gue tulis, tapi kisahnya terus gue ceritakan berulang-ulang kepada kuping-kuping yang sudi dan terpaksa mendengar, atau gue puisikan dengan aksara-aksara yang samar. 

  Gue rindu dia. Melebihi rindu kepada sosok lain yang telah menempati tempat yang sama, setelah kepergiannya. Sosok-sosok lain itu, bahkan lebih jelita daripadanya. Tapi dia tetaplah dia; Istimewa, persis seperti apa yang gue katakan padanya berulang-ulang. Rindu gue padanya begitu dahsyat. 

  Gue rindu bagaimana antusiasnya dia mengenalkan gue dengan lagu-lagu baru, lagu-lagu yang dia suka. Gue rindu senyumnya ketika kita berpapasan tanpa disengaja, yang membuat gue membeku, tak mampu berkata apa-apa. Gue rindu mantel yang ia kenakan ketika gue menyanyikan lagu kesukaannya dengan suara, dan kocokan gitar yang pas-pasan. Gue rindu emoticon-emoticon yang ia sertakan pada tiap pesan yang dia kirimkan. Gue rindu caranya marah ketika tanpa disengaja gue melupakan janji yang kita sepakati sebelumnya. 

  Cara dia marah ketika dia nunggu gue sendirian hujan-hujanan, sementara gue malah main futsal sama teman-teman. Gue rindu ketenangannya, seperti untuk pertama kalinya kita berbicara secara langsung, memecahkan kebisuan yang membelenggu berbulan-bulan. Gue suka tawa lebarnya, ketika gue dengan bodoh nembak dia dengan terbata pake bunga depan mata yang gue cabut sampai ke akarnya. 

  Gue suka cara dia nerima gue; ” Yes i do ๐Ÿ˜œ” katanya dulu. Gue rindu kacamatanya. Gue rindu poni rambutnya. Gue rindu hidung peseknya. Gue rindu jidat lebarnya yang sering gue tatap dalam dalam setiap kita bertemu. Gue rindu surat cintanya. Gue rindu matanya yang menyorot ke arah gue dari kejauhan, yang tanpa dia tahu, kalo gue sebenarnya melihat tingkah lakunya. Gue benar-benar rindu cara kita mengucapkan selamat tidur kepada satu sama lain; ” Have a nightmare,  ya ๐Ÿ˜œ”, gue rindu perubahan-perubahan cara kita memanggil satu sama lain; “kang-neng, aku-kamu, sampai, urang-maneh“, yang dulu pernah dia tertawakan perubahannya. Gue rindu panggilan ‘cuyung‘ nya, yang dia tahu persis, gue gak pernah suka panggilan-panggilan ‘sayang‘ seperti itu. Gue rindu postingan postingannya tentang gue di facebook, di blog, atau di twitter-nya, yang selalu gue tunggu, tanpa dia tahu. Gue rindu cara dia mengingat cerita kita. Cara ‘Flash back‘ nya, yang terkadang sering gue acuhkan. 

  Gue rindu masa-masa itu. Masa-masa yang selamanya, gak akan pernah terulang lagi. Gak akan ada ‘dia’ yang lain,  seperti apa yang pernah dia ucapkan dulu. 

  Dan gue, telah menemukan jawaban dari pertanyaan “Kenapa gue masih rindu dia“, gue sadar,  waktu itu,  kita memang bukan sepasang lawan jenis yang sempurna, tapi, menyempurnakan satu sama lain. Cerita kita terlalu sempurna pada awalnya, walau berlangsung sementara. Dan untuk setiap hal yang ‘sempurna’, akan selalu ada tempat yang istimewa, yang takkan lenyap oleh cerita-cerita lain yang ditulis waktu, yang takkan sirna ditelan usia yang berlalu cepat. Yang tetap ada, dan mengepul, tiap kali menikmati kopi hangat pada pagi hari. Dan gue, telah menentukan pilihan gue. Gue akan tetap mengaguminya. Dia yang dulu, yang gue tahu pasti, masih gue miliki bayangannya. โ˜บ

#BakalanDiHapus ๐Ÿ˜

#GagalMupon

Iklan

53 thoughts on “Have a Nightmare

Add yours

      1. Hhhhhehehe ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

        Ciaaa ke update untuk sekedar mengingat bahwa dulu dia adalah orang yang sangat-sangat-sangaaat aku love in… Hhha

        Suka ceritanya, cerita-cerita lagi… Nti aku baca n like jempol 4… Hhhe ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: