Patah Hati 3.0

Setiap perpisahan dan setiap kehilangan akan selalu menyisakan luka. Klise namun memang benar demikian. Luka yang akan memaksa menetap, membebani pundak kita seiring dengan harapan bahwa ia akan kembali suatu saat, yang diam-diam masih kita pelihara.

Dengan luka yang menemani, kita berubah menjadi manusia yang sentimental. Berpikir bahwa ia ada di dekat kita ketika langkah kaki membawamu pergi ke tempat di mana kamu bertemu dengannya untuk pertama kali. Mengorek kenangan ketika tanpa disengaja mata menemukan potongan rambut yang sama dengannya, atau radio yang sedang kita dengar memutar lagu yang sering kali kita nyanyikan sebelum memutuskan berpisah di pertengahan jalan.

Ketika kita berjalan seorang diri di antara kerumunan, kita berharap ada seseorang di keramaian yang bisa memahami atau mengerti bahwa kita sedang berjalan beriringan dengan rasa sakit yang kerap menghantui. Namun pada akhirnya kita tersadar bahwa tidak ada yang berubah ketika kita sedang terluka. Orang-orang akan tetap melewati kita begitu saja ketika kita berpapasan dengan mereka. Kita akan tetap menjadi manusia biasa di mata orang lain, meski sakit yang kita rasa begitu hebat. Dunia tetap berputar ketika kita sedang patah hati.

Sebab tanpa kita tahu, orang-orang di keramaian itu tengah menenteng luka mereka masing-masing. Ada luka yang membekap di antara tawa lepas mereka di deret kursi starbucks, ada pedih yang tertancap di punggung wajah yang tertunduk, ada penyesalan pada senyum penjaga swalayan. Rasa sakit itu ada di sekitar kita, meski tak terasa oleh sentuhan, tak sampai di penglihatan. Everyone has their own problems.

Selayaknya segala perpisahan memberikan kita alasan untuk dipahami. Kenyataannya, beberapa dari kita pernah ditinggalkan tanpa alasan yang jelas. Ada yang pergi setelah ada yang kembali, ada yang memutuskan menghilang ketika rasa ingin memiliki ini datang, atau mereka yang enggan lagi tinggal tanpa sempat mengucap selamat tinggal.

Seorang teman pernah ditinggalkan pacarnya dengan alasan “Aku gak suka kamu cukur kumis kamu.“, seminggu kemudian teman tersebut memahami bahwa alasan sesungguhnya adalah kehadiran ‘orang lain’. Dia ditinggal pergi karena pacarnya telah menemukan orang yang baru. Lucu mengingat teman tersebut sebelumnya juga menjadi ‘orang lain’ bagi mantan pacarnya yang memutuskan pergi dari pacar sebelumnya.

Ada beberapa pertanyaan yang baiknya kita biarkan tanpa memiliki jawab, hingga jawaban itu akan mendatangi kita dengan sendirinya, ketika kita telah cukup siap berhadapan dengan wajah kenyataan yang terkadang buruk rupa. Tidak semua kehilangan ada untuk kita tangisi kepergiannya. Karena satu sisi lain dari sebuah perpisahan adalah langkah awal dari sebuah pertemuan yang lebih baru.

Iklan

30 respons untuk ‘Patah Hati 3.0’

Add yours

  1. Wlau terkesan abstrak dan klise, dan mmang iya, heee…, tp keren Mas Hendra. Untaian2 katanya sangat reflektif. Stiap org punya mslhnya masing2. Sip.👌👍

    Btw, ini crita bkn berarti krn Mas Hendra lg patah hati, kan? Hanya nasihat scra umum atas pnglman hidup yg prnh Anda alami. I think so.

    Lalu, bgmn ksimpulannya (intinya)? Kyaknya klimat yg terakhir, gmn? Keren soalnya. Sy kutip ya:

    “Tidak semua kehilangan ada untuk kita tangisi kepergiannya. Karena satu sisi lain dari sebuah perpisahan adalah langkah awal dari sebuah pertemuan yang lebih baru.”

    Suka

    1. Oh bukan dong, mas. Bukan lagi patah hati, tapi ada temen yg lagi patah hati.

      Gimana, ya … Hmm semua yg punya awal pasti punya akhir, dan akhir adalah awal bagi sesuatu yg akan berakhir. Siklusnya gitu.

      Suka

  2. Saya termasuk yang berprinsip samaaa, bahwa setiap pertanyaan pasti berjodoh dengan sebuah jawaban, meski keduanya tidak selalu bertemu dalam satu kejadian. Sama seperti manusia mungkin ya, pertanyaan dan jawaban pun akan bertemu ketika memang sudah dirasa ‘siap’.

    Suka

  3. Suka dg artikel ini mas tamvan..
    Kadang masa lalu yang pahit ternyata tidak terlalu pahit juga saat kita berada di masa depan. Bahkan kita menertawakannya.
    Tapi memang untuk menegarkan diri juga butuh alasan, dan menemukan alasan tersebut yang sulit…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: