Perempuan Minggu Pertama

Kamulah goresan-goresan itu yang mengalir dari jantung pena segalanya tumpah menjadi debu dalam koridorku serupa memoar yang ditulis sembarang engkau mati dalam mimpi yang tak pernah memanggil bagimu harapan dan impian adalah cakrawala yang tak melintas gemintang menjadi redup kala nadamu berangsur padam apalagi, puan? kaupudarkan segala terang yang tersisa dan nyawa menelaah langkah yang... Continue Reading →

Iklan

Sepasang Ketidakpastian

Di antara mendung dan jendela yang terbuka kulipat bait ketiga dalam sebuah puisi tentang desau angin, jua daun yang gugur tentang teman bicara yang tak lagi bertelinga tentang ruang yang tak lagi memberi leluasa dan kau masih duduk berpangku tangan berselisih dengan surat yang tak pernah kau beri titik kau isi ia dengan spasi dan... Continue Reading →

Untitled

Sore adalah ruang yang mempertemukan kita dengan secarik kertas dan tangan yang gemetar laksana angin meniupkan helai-demi helai urai rambutmu serta pacu waktu mengubah angka demi angka jengkal ke jengkal, langit bergerak berubah warna dan kita akan menemui perpisahan di ujung gulita sebab engkau akan kembali menjadi mimpi pada malam hari maka nikmatilah gelisah, ujung... Continue Reading →

Cermin Terbelah

dalam sejengkal terpapar ilusi tubuhmu pada cermin terbelah temanku merekah rindu yang berlipat-lipat bukankah jarak ini hanya angka-angka juga dekat dan jauh kita serupa bumbu masak-masakan pada dramatik asmara yang kita sambung satu-persatu tanpa jeda cermin terbelah ini tahu nyatanya kita hanya sejengkal saja terpisah pada pantulan cermin terbelah lengkungmu melekat tubuhku juga doa pada... Continue Reading →

Objek yang Dikaburkan Bola Matamu

Jejak-jejak itu mulai sirna Tergerus cair-cair semarak merah Dan kelamku menyala-nyala Terabar suar tempatku menyamar Sedang cakrawala masih benderang Gerutuku pada imaji yang kadung kuraih Ia hadir sekelebat saja Tenggelam pada permukaan bumiku yang acak Pandangmu tertuju pada derai kalut Di sanalah punggung basah Dan kau masih diam Sementara enigma tak temu jawab Pernahkah terpikir... Continue Reading →

Bilur

Ada yang berbisik pelan di daun telinga Lalu padam tersisa dari pekat bola mata Dia yang melangkah, tanpa pamit, tanpa kata-kata. Menyisakan bayangnya yang tak mengenal kelana. Lalu purna, membuncah sungai yang linang Tanpanya, merdu tak lagi leluasa Semisal pepohonan lebatnya sirna dimakan usia Kini kutemui diriku bersua cermin yang bicara Aku tak lagi piawai... Continue Reading →

Tuan dan Biduan

Di balik kerumunan yang riuh itu Biduan meliuk-liuk tanpa malu Jemarinya pasrah demi kepulan asap di dapur rumah Dari kejauhan, juru rekam lihai mengabadikan Enggan terlewat hidangan dari sang biduan Dan dosa di ambang nada Tarian saru seakan lumrah disantap bocah Dua tiga tuan merogoh kocek Melempar saji untuk demit Memuja-muja aduhai lekuknya Sementara nyonya... Continue Reading →

Sajak untuk Pengajar

Dan kita memaku di sini. Menerka di balik jendela terbuka. Berminggu-minggu sudah Kakek usil itu tak lagi menampakkan muka. Jasadnya terkubur, memegang erat senyum yang biasa ia tabur. Ia pernah mengajariku tentang sederhana Tentang dosa-dosa manusia. Ia pernah mengajarimu pula. Teman, ia pergi dan damai. Sayap-sayapnya telah tumbuh sempurna. Ia terbang bersama doa-doa Yang kita... Continue Reading →

Kawanan Senja

Kita jingga yang mencumbui senja yang mentah Meraba-raba langit agar ia sudi memerah Kawan, tidakkah kita rindu sukacita? Sebab telah pecah hujan pada biru aksaraku Ribuan kata-kata melompat dari pena Nama-nama kita terselip di dalamnya Kawan, pohon-pohon kata yang tumbang itu berdahan duri. Telah sempat ku genggam ia, gumpalan darah pekat mengalir setelahnya. Baunya kesepian.... Continue Reading →

WordPress.com.

Atas ↑