Tak Ada yang Benar-benar Pergi

Tak ada yang benar benar pergi, puan. Di bawah kolong-kolong langit mendung, masih bisa engkau temui hujan, sebagai getar, pengingat gersang yang pernah kautemui keberadaannya. Di bawah kolong-kolong langit mendung pula, telah kau sibakkan helai rindu jatuh, agar sampai deras hujan membawanya hanyut, sirna dari pandang sayu bingkai mata. Tapi, kau tahu pasti, puan, tak... Continue Reading →

Iklan

Yang

Yang.. Yang kita lihat itu bayang-bayang manusia pada etalase kaca. Lepas pada sepertiga malam yang biru Kadang tertawa, duduk, atau menggerutu. Yang.. Yang kita tengok itu fatamorgana potret-potret dulu. Bak oase, membelalakkan mata pada kering relung yang tandus. Mereka saru, mereka semu. Yang.. Yang kita hirup itu wangi-wangian rindu yang keluar dari belenggu. Merangkak masuk,... Continue Reading →

Mereka, Dia, Bukan Kita

Lilin-lilin redup telah kita nyalakan. Remang ini lelap Kita tidur saja. 'Tak perlu lagi kau tanyakan Apa, siapa, dan bagaimana. Sebab mereka bukan kita Bukan aku, bukan kamu Dia adalah sepenuhnya dia. Sebab lagi, mereka 'tak tahu kita 'Tak tahu aku, 'tak tahu kamu Dia hanya tau dia Atau mungkin tidak Dia hanya tahu sekilas... Continue Reading →

Kita di Antara Kota Kembang (2)

Lalu ku telusuri jejakmu pada koridor ingatan Ada sekelebat waktu yang ku gapai dalam kabut kening yang menganga Damai dan merdu Lalu menyeretku ke waktu lalu Di beranda gedung tua Suara kita mendayu terbata-bata   Ada kaku yang menjalar di kedua raga Hanya senyumanmu yang mengembang malu Mengenalkanku pada sempurnamu Di belahan barat laut kota... Continue Reading →

Di Negeriku

Di Negeri ku Negeri pemimpi Telak kau hujam ia dengan racun-racun janji Membangun rangka-rangka delusi Yang teratur hambar, yang sukar kau tepati Di Negeri ku Negeri yang mati Sorak-sorai gemuruh tercuat kau punya dengki Melibas kekar bangsa sendiri Membunuh raga-raga suci Di Negeri ku Negeri surgawi Telah kau benturkan wajah-wajah lugu para pencari Dengan bait... Continue Reading →

Kita di Antara Kota Kembang

Tak usah pura-pura teduh saat terik menyengatmu, puan. Kita bisu di bawah langit kota kembang sore itu Matang di rawa-rawa yang airnya membuncah Kusam di kecup bahu jalan Aku menyertaimu pada masa serupa kecambah Saat kedua pipi mu menjadi semu merah tiap-tiap syair pujian untukmu ku bisikan pelan, di kedua daun telingamu menjuntai. Di bawah... Continue Reading →

Di Lepas Pantai yang Biru

Tengoklah arah mata angin mengalur ke selatan Angkuh menantang badai-badai lautan. Dihembusnya kata-kata yang tak sempat diutarakan pada si empuan Bibirnya kelu Nyalinya membeku Pada baris sejajarnya Nyiur-nyiur bersiul, bergesekan udara pantai Nada-nada yang disuguhkan lenyap diantara deru ombak yang menghantam karang Sang lembayung perlahan keluar dari persembunyian. Ia malu Bola mata sayu tertunduk lesu... Continue Reading →

Aku Mati

Aku larut beserta gula-gula yang dituang pada bubuk kopi pagi ini. Sang empunya cangkir menenggakku habis Aku hanyut bersamaan rintik-rintik hujan yang jatuh hari ini. Sungai sungai mengalir menenggelamkanku mati Aku lebur menyatu bara yang menjalar kayu di ladang ini. Jilat lidah api menghanguskanku ringkih Aku berbaur menyatu aromamu yang harum di ruang ini. Jerar-jerat... Continue Reading →

Hitam pada Malam

Kita pernah dengan lantang mewarnai langit Aku beri biru Kau beri abu-abu Aku beri merah Kau beri putih Aku beri jingga Kau beri hitam Dan di antara warna warna yang melekat pada paras langit, ada satu warna yang enggan luntur ditelan waktu. Enggan mati ditunggang masa. Hitam. Langit malam ini hitam lagi Ia serakah melahap... Continue Reading →

WordPress.com.

Atas ↑